Soal Novel, KMS Sebut Iwan Bule Tahu


Jakarta, dikabari.com Sebuah laporan dari Koalisi Masyarakat Sipil (KMS) mencatat Iriawan sempat memberi peringatan kepada Novel terkait serangan itu. Mantan Kapolda DKI Jakarta Mochammad Iriawan juga disebut sudah tahu akan ada serangan terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

"Kapolda Metro Jaya waktu itu (M Iriawan) sudah memperingatkan Novel bahwa ia akan mendapat serangan dan menawarkan pengamanan dan pengawalan," ungkap laporan tersebut yang dirilis di Gedung Merah Putih KPK, Selasa (15/1).

Novel yang mendapat peringatan tersebut, menyarankan balik agar tawaran pengamanan tadi disampaikan langsung ke pimpinan KPK untuk menghindari hubungan personal. Akan tetapi akhirnya mereka tidak tahu pencegahan macam apa yang akhirnya dilakukan oleh kepolisian hingga insiden penyiraman air keras itu terjadi.Laporan ini berpendapat bahwa pihak kepolisian tidak mengambil tindakan apa pun untuk mengantisipasi serangan.

"Kepolisian telah mengetahui serangan sejak awal, tetapi tidak mampu karena satu dan lain hal diam atau tidak melakukan upaya pencegahan," demikian bunyi laporan tersebut.

Laporan pemantauan ini dibuat oleh lintas lembaga swadaya masyarakat (LSM), terdiri dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS), Lokataru Foundation, Indonesia Corruption Watch (ICW), LBH Pers, PSHK AMAR, Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas, dan Pukat UGM tercatat sebagai penyusunnya. Dokumen laporan ini juga diserahkan kepada wartawan di KPK.

Lintas Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) tersebut juga mencatat ada sejumlah kejanggalan dalam proses penyidikan kasus penyiraman air keras Novel Baswedan.

Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati mengungkapkan contoh kejanggalan itu adalah penghilangan sidik jari pada cangkir yang digunakan untuk menyiram air keras serta melepaskan sejumlah terduga pelaku dengan alasan tidak berhubungan dengan penyerangan tersebut.

"Ada upaya menutup jejak penyidikan sehingga bukan hanya pelakunya enggak terungkap. Tapi juga nama baik Novel dan kawan-kawannya menjadi buruk, sehingga dukungan masyarakat menjadi berkurang," terang Asfinawati.

Terkait hal ini sudah mencoba mengonfirmasi temuan laporan koalisi LSM terkait Novel tersebut kepada M Iriawan melalui media medsos WA, dan menelpon via Hp. Namun pria yang akrab disapa Iwan Bule itu belum memberikan respons.

Serangan pada Novel terjadi pada 11 April 2017.  Tetapi dalam laporan itu disebutkan bila Novel sudah berulang kali mendapatkan teror. Novel pernah diserang pada tahun 2012 dan 2015 saat menyidik sejumlah perkara. Penyerangan pada Novel itu berujung pada teror penyiraman air keras pada Novel yang disimpulkan laporan itu sebagai upaya pembunuhan berencana.

"Serangan terhadap Novel merupakan balasan terhadap tindakannya yang sedang menjalankan kewajibannya sebagai penyidik KPK dan bertujuan untuk memperingatkan sekaligus membungkamnya secara langsung dan menghambat kerja-kerja KPK terutama yang melibatkan Novel," tulis salah satu poin sebagaimana dikutip dari laporan tersebut, Selasa (15/1/2019).

"Serangan terhadap Novel pada tanggal 11 April 2017 patut dicurigai sebagai pembunuhan berencana. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator, yaitu motif serangan, modus atau pola serangan, dampak serangan dan pelaku serangan," tulisnya.

Komjen Irawan (Iwan Bule) Membantah

Terkait laporan Koalisi Masyarakat Sipil yang menyebutkan bahwa eks Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Metro Jaya itu mengetahui penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan mendapatkan serangan. Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri memeriksa Komisaris Jenderal Mochamad Iriawan
Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri Inspektur Jenderal Mohammad Iqbal menyebutkan  Iriawan membantah sempat memberi peringatan kepada penyidik KPK Novel Baswedan terkait serangan tersebut, sebagaimana sebelumnya dilaporkan oleh Koalisi Masyarakat Sipil.
Menurut Iqbal pemeriksaan terhadap Iriawan dilakukan Propam Polri secara resmi dan sesuai mekanisme kepolisian bila menemukan indikasi atau dugaan keterlibatan anggota dalam dugaan tindak pidana.

"Kami sudah periksa MI  (Mochamad Iriawan), Kapolda Metro Jaya pada masanya, Propam sudah periksa. Hasilnya beliau sampaikan tidak pernah menyampaikan hal itu kepada sudara NB  (Novel Baswedan)," terang Iqbal di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (16/1).

Meski begitu Iqbal mempersilakan Novel untuk menyampaikan informasi seputar dugaan keterlibatan pejabat tinggi Polri dalam serangan teror yang dialaminya ke penyidik Polda Metro Jaya secara resmi.  Katanya penyidik akan mendalami, mengejar, serta melakukan pembuktian secara ilmiah bila Novel melakukan hal tersebut. dc5

Tidak ada komentar